Kamis, 28 Mei 2020

Pupus


Oleh : Venus

 Tumpahan darah mengalir tak tentu arah, tanpa ada kepuasan dan belas kasih. Hanya sebatang bambu runcing dan alat untuk membela diri. Tak ada tangisan akan kehilang saudara yang di cintai. Pada 17 agustus 1945 kami bebas. Alangkah bangganya kita bukann sebagai bangsa Indonesia,,,??
 Tingginya gedung-gedung ibu kota
 Tak setinggi ilmu bangsa.
 Gelapnya suatu bangsa tersembunyi
Tersembunyi akan misteri dan penuh dengan kepalsuan.
LLL
          Ratusan pengetahuan terlintas di otak ku. Dengan sentuhan tangan halus,ku mendapatkan sesuatu yang tak terbayangkan bisa ku dapatkan. Dari sentuhan tangan halus Pak Leo aku bisa berda di perusahaan sebesar ini.
Di gedung yang berdiri kokoh dan tinggi ini aku bekerja sebagai direktur keuangan. Perusahaan ini milik Pak Agus salah satu rekan Pak Leo. Pak Leo seorang yang sangat berjasa bagi ku. Beliaulah yang telah menjadikan ku seorang yang beruntung.
Binar mata ku tertuju pada layar hp. Jemari ku sibuk mencari kontak Pak Leo.
Memanggil...
PAK LEO*
I’m lucky i’m in the love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ho...ho....ho...* Suara nyaring RBT memasuki gendang telinga ku.
“Hallo..ini Pak Leo ya...?”
“Ya,ada apa Mitha...?”
“Apa ada waktu buat kita bisa ketemu,pak...?”
“Kapan...?”
“Malam ini bisa,pak?”
“OK..ketemu di mana..?”
“Di cafe tempat biasa,pak.”
“Baiklah...!!!”
***
Jamuan malam terhidang dengan rapi di meja bundar yang mungil. Tak lama ku menunggu kedatangan Pak Leo,beliau pun datang. Percakapan diantara kami pun terjalin.
“Hey, sudah lama ??” Sambil menggeser kursi di hadapan Mitha.
“10 menit yang lalu kok,pak ...!”
“Ada apa..?apa kamu di terima..?” Hempasan pertanyaan terlontar.
“Iya pak,berkat anda saya bisa di terima.”Suatu kebanggaan pun ada pada diriku.
“Hahahah .... senangkah diri mu??”
“Iya pak.”
Penuhya cangkir yang tadinya memberi kehausan akan  kerasnya pekerjaan. Lama kelamaan penuhnya mulai surut.
Nit ... nit ... nit ...
Pak Leo menatap layar HP-nya.
Panggilan masuk menggangu jamuan malam ku.
“Pengeluarannya sekitar berapa rupiah...?”
“Sekitar Rp.25.000.000,pak”
“Pengeluarannya cuma Rp.25.000.000,?”
“Iya pak.”
“Iya sudah,tolong besok laporannya bisa kamu letakkan di meja.”
“Baik pak...”
Catatan kecil menampakan kegunaannya,mulailah pena Pak Leo menulis sesuatu.
Laporan
Hari         : Sabtu, 2 november 2019.
Pengeluaran : Rp. 30.000.000,-.
Keterangan : membeli perlengkapan data.
 Lensa mata ku merekam sesuatu yang membuat ku bertanya-tanya.Tak tahan bibir ini tuk berucap. Sekuat tenaga ku memberanikan diri.
“Pak...!.”
“ Hmmmmm...”Sambil memandang memo kecilnya.
“Bapak, tidak salah menulisnya ??” Telunjuk manis ku memberi tahunya.
“Gak  kok...”
“Yang aku dengar tadi pengeluranyaRp.25.000.000,- tapi kenapa bapak kok menulisnya Rp.30.000.000..?”
“Hahahahaha ...” Pertanyaan ku malah dijawab dengan senyuman yang mengarah pada sesuatu hal yang disembunyikan.
Semua itu membuat aku penasaran. Pak Leo tak mau menjelaskannya. Namun hati ini tak bisa membiarkannya. Dengan penuh hormat aku meminta penjelasan pada Pak Leo.
          “Apakah bapak bisa menjelaskannya pada ku...?”
          “Baiklah,hanya kamu yang aku percayai...!!”
          “Ya pak.”
          “Jadi begini,semua yang kita lakukan dalam kehidupan ini harus menguntungkan. Jangan sampai malah membuat kita menjadi hancur.”
          “Maksud bapak apa..? aku masih belum mengerti.”
          “Aduuucccchhhh....!!! kamu ini, semua ini kan bisnis, masak kamu tidak mengerti..?”
Sifat buruknya pun memberikan sesuatu yang  menurut ku menguntungkan.
***
Dua tahun aku hidup dengan limpahan yang selam ini. Kehidupan ini ku tanam dengan prinsip yang ku pegang. Seperti khalnya putaran roda,aku pernah mengalami  satu yang membuat ku tak berdaya. Tapi semua itu aku dapatkan tanpa adanya kepusan tersendiri.
Terdengar alunan langkah kaki menuju ke ruangan kerja ku. Jari-jemari tangan mengetuk kerasnya kayu pintu berpelitur mengkilat.
          “Permisi...!!”
          “Masuk..!” Sambil melangkahkan ketukan jemari tangan di keyboard dengan lincah.
“Ada berkas yang harus di pelajari buat meeting nanti,bu...”
          “Ya,taruk di meja”
          “Baik bu,Permisi...!”
          “Hmmmmm.....!!”
          Meeting siang itu berjalan dengan lancar sesuai dengan yang di harapkan. Setelah semua yang di harapkan berhasil Pak Agus lebih mempercayai ku. Pak Agus mengangkat jabatan ku lebih tinggi.
JJJ
Keberhasilan yang telah ku peroleh tak akan ku biarkan musnah begitu saja. Aku harus bisa jauh lebih berhasil dari sekarang. Puncak tertinggi harus aku dapatkan dan itu harus terwujud. Semangat itu yang membuat ku terjerumus ke lembah hitam. Akankah sebuah prinsip ku lakukan seumur hidup..??
“ Mungkin hari ini aku tidak dapat bertemu langsung dengan anda”
“Kenapa pak ...?”
“Saya ada keperluan mendadak.....maaf sebelumnya”
“Baiklah...”
“Nanti ada orang kepercayaan saya  pak,jadi tenang saja”
“Iya pak”
Ucapan itu terdengar begitu saja. Tanpa tahu sosok yang di maksud, zcvPak Agus berkomunikasi dengan klayennya. Tiba-tiba suara itu tak terdengar lagi.
“Tolong panggilkan Mitha ke ruangan ku.” Sambil menyambungkan alat komunikasi pada sekertaris.
Beberapa menit berlalu Mitha pun menghampiri Pak Agus di ruangannya. Pak Agus menjelaskan maksudnya memanggil Mitha ke ruangannya. Pak Agus menyuruh Mitha untuk menggantikannya meeting.
***
         
Semua kepercayaan yang Pak Agus berikan tak pernah aku sia-siakan begitu saja. Meski sedikit peluang picik akan ku lakukan demi mewujudkan ketidak puasan ku.
Trrrrrrriiiinnnggg...!!!
Lampu kecil menyalah begitu saja, sms masuk aku buka.
By : Pak Leo
Sukses besar  akan mengunjungi kita dengan segera.
Jadi bersiaplaH ...
“Ha... ha... ha....”  Terbahaknya suara ku,mendengar berita itu.
“ Akhirnyaaaaaa...”  Begitu kerasnya kata itu keluar dari mulut manis ku.
JJJ
Pagi itu rencana ku lancar tanpa Pak Agus ketahui. Ratusan juta uang telah masuk begitu saja ke dalam rekening ku. Pasang mata tak mengetahuinya. Hanya contoh dari Pak Leo lah yang membuat ku menjadi seperti ini.  Kebusukan mulai tercium oleh Pak Agus, tersadar bahwa  kebusukan ku telah tercium, jiwa ini  mulai merasa khawatir.
“ Saya memberi kepercayaan bukan untuk kamu disalah gunakan ...” Dengan nada tinggi
“Tapppiiii pak apa salah saya ???” Nada pelan terlintas
“ Bukannya kamu telah mengkorupsi dana untuk pembangunan gedung di Bumi Indah..??” Lensa mata menjulur menandakan kemarahan yang amat sangat.
Tanpa banyak berkata-kata aku memberanikan diri untuk mengakui semuanya.
“Maafkan saya pak.”
“Maaf kamu bilang..?? kata maaf takkan bisa mengembalikan semuanya. Jadi siapkan diri mu buat mendekam di jeruji besi.”
“Tapi pak, apa tak ada jalan lain buat menyelesaikan masalah ini..?”
“Sudahlah kamu tak perlu berkata-kata lagi. Sekarang silahkan tinggalkan kantor ini.”
Dengan berat hati aku melangkahkan kaki ku pergi meninggalkan kantor.
LLL
          Mendekam di jeruji besi tak pernah terfikirkan dalam lubuk hati ini. Penyesalanlah yang membuat ku teringat sesuatu. Perjuangan sang pencerah  yang telah mendidikku dengan baik. Namun tak pernah ku ikuti semua yang beliau ajarkan.
          Gulungan ombak mengikis karang
          Kesepian dan kerasnya karang
          Membawa akan teringatnya kenangan
          Gerhana bulan merenangi
          Redupnya planet di tata surya
          Membawa kenangan akan masa kecil
                   Bayangan kosong melintasi pupil
                   Tanpa terasa air mata membasahi kornea
                   Sepenuh hati aku merindukannya
                   Kehangatan surya akan dekapan jemari tangannya
Malam pekat berkabut awan kehitaman. Semilir angin kencang menampar wajah ku. Tebalnya jaket yang kupakai tak memberi kehangatan tersendiri bagi tubuh ku. Semua usaha yang ku lakukan pupus begitu saja.
          Tak ada lagi yang bisa ku lakukuan untuk menghangatkan badan.
          “AduuuccchHh...!! Dari pada kedinginan seperti ini lebih baik aku tidur sajalah.”
          Mencoba terbang ke alam mimpi dan lupakan semua yang telah terjadi.
          Teng..teng..teng...!!!
Jarum jam menunjukkan waktu tengah malam. Detak alunan bunyi jam dengan lantang terlintas di telinga ku. Lagi-lagi mengusik ketenangan ku untuk beristirahat dengan nyaman.
***
Tangisan ibu saat menjenguk ku di tahanan mengingatkan ku pada banyak hal. Pada ketabahan dan kekuatan yang telah ibu lakukuan selama ini. Tanpa sosok seorang ayah yang mendampingi. Segala usaha ibu lakukan buat aku supaya bisa bersekolah dan meniti karir untuk menjalani kehidupan kukelak, karena itu ibu tak ingin terpacu pada prinsip nenekku yang beranggapan bahwa seorang wanita tidak perlu terlalu pandai, dalam arti tidak perlu bersekolah. Perempuan hanya perlu mendapatkan kepandaian apa adanya. Lalu persoalan akan terselesaikan dengan cara menikah. Kemudian melahirkan,merawat  dan memberi bekal akhlak untuk generasi penerus bangsa.
Jerih payah yang aku lakukan selama ini tidak bisa membuat ibuku bangga. Aku malah membuat beliau malu atas semua yang telah aku perbuat. Bagai pohon yang indah dan berbuah busuk.
LLL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar