Minggu, 11 Desember 2011

Sejarah Singkat Imam Syafi'i


Sejarah Imam Syafi'iNama dan Nasab
Beliau bernama Muhammad dengan kun-yah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.
Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi‘, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi‘i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi‘, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.
Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi‘i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi‘i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja.
Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.
 

Waktu dan Tempat Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.
Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.
Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.
 

Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu

Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.
Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.
Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.
Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ –yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin ‘Uyainah –ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.
Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma‘il bin Ja‘far, Ibrahim bin Sa‘d dan masih banyak lagi.
Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan –satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenarannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.
Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi‘i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafi‘i secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang mengenaskan dari penguasa. Maka berbeda dengan sikap ahli fiqih selainnya, beliau pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sangat sulit.
Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu‘, padahal sikapnya sama sekali berbeda dengan tasysyu’ model orang-orang syi‘ah. Bahkan Imam Syafi‘i menolak keras sikap tasysyu’ model mereka itu yang meyakini ketidakabsahan keimaman Abu Bakar, Umar, serta ‘Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Alquran maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang syiah sebagai ahli fiqih madzhab mereka.
Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi‘i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.
Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra’yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.
Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, penjelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.
Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadits merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.
Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.
Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi‘i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh –yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.
Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi‘i kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.
 

Keteguhannya Membela Sunnah

Sebagai seorang yang mengikuti manhaj Ash-habul Hadits, beliau dalam menetapkan suatu masalah terutama masalah aqidah selalu menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan ahli kalam. Beliau berkata, “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.” Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadits.
Terdapat banyak atsar tentang ketidaksukaan beliau kepada Ahli Ilmu Kalam, mengingat perbedaan manhaj beliau dengan mereka. Beliau berkata, “Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari Alquran dan sunnah, maka ucapannya adalah benar, tetapi jika dari selain keduanya, maka ucapannya hanyalah igauan belaka.” Imam Ahmad berkata, “Bagi Syafi‘i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan prilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali dengan ilmu kalam, dan lebih tertarik kepada fiqih.” Imam Syafi ‘i berkata, “Tidak ada yang lebih aku benci daripada ilmu kalam dan ahlinya” Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi‘i membenci kesibukan dalam ilmu kalam. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.”
Ketidaksukaan beliau sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi ahli ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan memilih ilmu kalam.
 

Wafatnya

Karena kesibukannya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.
Ar-Rabi menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi‘i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah ?” Beliau menjawab, “Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus”
 

Karangan-Karangannya

Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat.

Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.

 
Sumber :
1.      Al-Umm, bagian muqoddimah hal 3-33.
2.      Siyar A‘lam an-Nubala’
3.  Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi‘, terjemah kitab Manhaj al-Imam Asy-Syafi ‘i fi Itsbat al-‘Aqidah karya DR. Muhammad AW al-Aql terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi‘i, Cirebon.
Sumber: Muslim

Kamis, 08 Desember 2011

Catatan Terakhir

BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM

ALLOOHU SYAAHIDZII
ALLOOHU HAADLIRI
ALLOOHU MUTHTHOLI-'U 'ALAIYA
artinya;
Alloh adalah saksiku
Alloh adalah Tuhan yang hadir disisiku
Alloh adalah Tuhan yang mengawasi diriku...

ALLOOHUMMA BAARIKLII FIL MAUTI
WA FIIMA BA'-DAL MAUT...
artinya:
Ya Alloh berkatilah aku di dalam kematian
dan di dalam segala sesuatu sesudah kematian

tak ingatkah kau dengan janji itu... aku berharap kau ingat. kini... aku hanya bisa pasrah, tawakkal dan berusaha untuk bangkit. walaupun tidak semudah membalik telapak tangan, krn aku mencintaimu tulus hanya karna mengharap ridlo Alloh. sayang tiada takutkah kau bila mengatasnamakan TUHAN, atau kau memang tiada pernah tau akibatnya...
ASTAGHFIRULLOOHAL 'ADHIIM
ni aku tulis, dan aku yakin kamu akan melihat note ini. coba baca dzalil yang mendasari tentang janji yang mengatasnamakan Alloh.

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (Al-Fath;10)

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. (ali Imron 77)

Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: "Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)." Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.(At-Taubah;64)

itulah yang aku kuatirkan, andai saja kita tiada pernah mengatas namakan TUHAN, INSYA ALLOH aku rela, walaupun hati tidak ikhlas. tapi yang terjadi saat ini, sungguh aku tidak pernah rela orang lain menjamahmu, tapi bila kau sudah menikah dengannya, aku tak akan mampu berbuat apa2, karna hanya restuku demi kebahagianmu sajalah yang dapat aku berikan.
maafkan aku sayang, maafkan. ini note terakhir tentang kita.

mulai sekarang aku akan berusaha untuk melupakanmu dan membuang jauh2 anganku bersamamu. karna kau tiada lagi peduli keresahan yang aku rasakan, bahkan kau tiada pernah tau jiwa dan ragaku tersiksa karenanya.
jujur aku tetap mengharapkanmu kembali bersamaku sebelum aku temukan tulung rusukku yang sebenarnya.

mungkin, bagi anda yang berada di dumay, ini terkesan lebay... tapi inilah yang membuatku seperti ini, skali lagi maaf sobat. bahkan aku berharap mending maut menjemput dari pada hidup dengan kehampaan.

Ya Allah Ya Tuhanku, seandainya telah engkau ciptakan dia untuk diriku, maka satukanlah hatinya dengan hatiku, titipkanlah kebahagian di antara kami agar kemesraan itu abadi dan takkan pernah berhenti
Ya Allah, yang maha mengasihi, seiring waktu berjalan tiada henti, bimbinglah kami melayari hidup ini menuju kebahagiaan yang abadi.

akan tetapi, seandainya telah Engkau takdirkan bahwa dia bukan miliku,
bawalah ia jauh dari pandanganku, pikiranku dan relung kalbuku. Hilangkanlah kerinduan yang menyayat-nyayat perasanku. Luputkanlah dia dari ingatanku dan peliharalah aku dari keputusasaan

berikanlah aku kekuatan Untuk menepis bayangannya jauh ke ujung langit biru. agar aku bisa bahagia dan tersenyum, walaupun dia tidak ada bersama diriku. Gantillah yang telah tiada, tumbuhkanlah kembali yang telah patah, walaupun tidak sama seperti dirinya , seorang yang tulus dalam mencinta

hamba pasrahkan segala jiwa dan raga ini hanya milikmu
Kutahu Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan adalah yang terbaik dalam realita hidup dan matiku, karena Engkau Maha mengetahui segala yang terbaik bagiku
ASTAGHFIRULLOHAL 'ADHIIM

Lelaki Yang Telah Mati

Sudah lebih dari 2 tahun yang lalu, sejak aku dinyatakan menghembuskan nafas terakhir oleh tim medis rumah sakit. secara medis aku sudah dinyatakan mati, jantungku berhenti berdetak, paru-paru ku tak lagi menghembuskan udara dan otak ku juga tak bereaksi. Kematian ku begitu mendadak, aku tak pernah punya penyakit serius dan aku juga tak mengalami kecelakaan ataupun kejadian yang membunuhku, aku mati begitu saja. Tiba-tiba saja aku merasa di tempat yang asing, tempat yang gelap, dingin dan sepi. Tak ada cahaya yang menuntun jalanku, tak ada suara yang membimbing dan tak ada seorangpun yang menemaniku. Aku merasa ringan, melayang tanpa tujuan. Tapi yang aneh setelah setahun lebih, aku hidup begitu saja, seorang proffesor pun tak bisa menjelaskan kenapa dan bagaimana bisa terjadi, hingga aku bangkit dari kematian.
Kematian membuat aku lebih menghargai hidup. Membuat aku mengerti betapa indahnya hidup dan betapa berartinya mereka yang aku cintai dan mereka yang mencintaiku. Aku sudah pernah mati dan aku yakin suatu saat aku akan mati lagi, tapi sebelum itu terjadi (lagi), aku harus melakukan sesuatu yang berarti. Sesuatu yang membuat orang mengerti tentang arti hadirku.
Saat kebangkitanku itu aku menemukan seorang  bidadari, ” Hai sayang sudah lama nunggu ya? ” Arni menyapaku”, dia adalah wanita yang sangat aku cintai dan aku yakin dia mencintai aku seperti aku mencintainya. Aku membalas sapanya dengan senyum dan kecupan kecil di dahinya. Setelah kematian itu aku dekat dengan dengan Arni, sepertinya apa yang aku lakukan hanya untuk dirinya. Bahkan aku melewatkan keseharianku hanya untuk menemani dia baik di rumah maupun di kantor. Mungkin aku takut jika harus berpisah atau kehilangan dia.
Arni benar-benar bidadari dalam hidupku, dia bukan wanita yang tanpa cela, hanya saja dia sempurna bagiku. Aku sanggup melakukan apa saja hanya untuk mebuatnya tersenyum, senyum yang menerangi sisi gelap dunia, senyum yang memberi aku semangat dan kekuatan, membuat hidup menjadi lebih berarti. Demi Tuhan Sang Pencipta cinta, aku tak akan pernah mengkhianati cinta yang dia berikan. Mungkin aku harus berterima kasih kepada dewa maut yang telah menunjukkan berartinya cinta Arni.
Hari berganti hari, lalu pada suatu ketika; suatu peristiwa terjadi antara aku dan dia, mata kami sayu menatap ombak yang tak pernah berhenti. Suara air yang mencoba meraih pantai mendesir, mengiringi hembusan nafas yang penuh cinta. Jemariku memegang erat jemari mungil Arni, sesekali aku mencium punggung tangannya yang tampak mulai kedinginan. ” Aku mencintaimu” aku berbisik mesra, Arni hanya tersenyum. Mengusap rambut ku, dan mengambil beberapa butir pasir yang menempel. Menyandarkan kepalanya di dalam pelukan ku.
Aku menatap matanya, memberikan ciuman di bibir merahnya dan entah bagaimana cinta mulai mnghangatkan gairah. Membiarkan tubuh kami yang tanpa busana beradu mesra. Tubuh kami bersatu dalam cinta, nafas kami mendesah berirama, seperti menyanyikan lagu tentang kenikmatan.
Aku merasa bersalah kepada Arni, karena aku telah menodai cintanya dengan nafsu dan gairah yang penuh dosa. Tapi kejadian malam itu membuat aku jauh lebih mencintai dia.
Aku berdiri di halaman kantornya, seharusnya Arni sudah keluar dari kantornya sejak satu jam yang lalu. Mungkin dia sedang ada pekerjaan penting tambahan. Dua jam berlalu tapi Arni belum juga keluar dari kantornya. Aku mencoba menghubungi ponselnya tapi sia-sia, ponselnya dimatikan. Tanpa banyak kata aku langsung pergi ke rumahnya, berharap bisa menemuinya. Tapi percuma tidak ada seorang pun di rumahnya yang mau berbicara dengan aku, tidak ada yang mau menemui aku. Mereka seperti menganggap aku tidak ada.
Apakah kejadian malam itu yang membuat Arni dan keluarganya menjadi seperti ini. Mungkin mereka marah karena aku telah menodai putri yang mereka banggakan. Mungkin mereka sangat marah...!!!!!
Seminggu telah berlalu tapi aku masih belum bisa menemui Arni, ponselnya tak pernah aktif. Dia juga tak pernah ke kantor dan keluarganya pun menutup mulut dan hati mereka dengan rapat. Mereka enggan berbicara denganku. Sementara aku semakin merasakan rindu yang menggebu. Tanpa tatapan matanya hidup ku terasa hampa, tanpa senyumannya aku merasa lemah.
Dengan tanpa harapan aku pergi lagi ke rumahnya, berharap kali ini aku mendapat perlakuan yang lebih baik, tapi sia-sia, semuanya masih sama. Aku memutuskan untuk menunggu di depan rumahnya, dengan harapan dia mau keluar untuk menemui aku.
Lebih dari dua jam berlalu,tapi Arni belum juga keluar untuk menemui aku. Aku melihat pintu garasi rumahnya terbuka, sebuah sedan keluar dari pagar rumahnya. Aku melihat Arni dan ayahnya di dalam mobil itu. Aku segera mengikuti kemana mobil itu pergi mobil Arni berhenti di depan sebuah gedung berlantai dua dari bentuk bangunannya sepertinya itu rumah sakit, bukan rumah sakit biasa, tapi rumah sakit jiwa. Aku kembali bertanya tentang apa yang terjadi pada Arni.
Arni dan ayahnya masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya ruang praktek seorang dokter ahli penyakit jiwa, tak lama kemudian ayahnya keluar dari ruangan itu , meninggalkan Arni di dalam. Aku memalingkan muka beruasaha agar tak terlihat oleh ayahnya.
Pintu ruangan itu terbuka, berharap Arni yang keluar dari ruangan itu, ternyata benar Arni keluar dari ruangan itu. Dia melihat ke arah ku, menatap diriku sejenak, dan kemudian pergi begitu saja seolah tak pernah melihat aku. Aku segera berlari mengikutinya.
” ARNI-ARNI !!!” aku memanggilnya dengan keras, memastikan dia bisa mendengar suaraku. Arni menoleh ke belakang, menghentikan langkahnya.
” Arni, aku hanya ingin bicara. Beri kesempatan aku bicara”.
” Ikuti aku, aku tidak bisa berbicara denganmu di sini ” Arni menjawab dengan suara lirih.
Arni mengajakku ke sebuah tempat yang sepi, sangat sepi. Sepertinya aku pernah ke tempat ini, tapi aku tidak tahu tempat ini, seperti sebuah pemakaman.
” Kenapa kamu menjauhi aku? Apa karena kejadian malam itu ?”
” Bukan, bukan karena malam itu. Malam itu tak terjadi apa-apa”
“ Apa maksudmu? Bukankah malam itu kita berdua benar-benar menikmatinya, menikmati cinta dan gairah yang berpadu menjadi satu. Aku mengerti jika karena kejadian itu kamu menghindar untuk bertemu aku. Mungkin kamu kecewa karena aku tak bisa memisahkan antara cinta dan nafsu. ” aku berbicara panjang, menunjukkan aku yang tak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Arni.
” Bukan . Aku menjauhi mu karena kamu tidak nyata, kejadian malam itu tidak nyata. Semua hanya ilusi, kamu sudah mati. ” Arni menjawab dengan kata-kata yang membuat aku lebih tidak mengerti.
” Aku memang sudah pernah mati, tapi aku hidup lagi. Aku hidup lagi untuk mencintaimu. Dan sekarang aku di sini, masih mencintai mu.”
” Kamu sudah mati, dan sekarang kamu masih mati. Saat ini kamu hidup hanya sebagai ilusi, sebagai bayangan yang tercipta dari hati dan pikiran ku. Hatiku yang terluka dan pikiran yang hampa karena kesedihan yang begitu hebat yang pernah menimpaku.” Tapi jika aku hanya ilusi, bagaimana aku bisa menjadi begitu nyata. Aku bisa menyentuh mu, berbicara dengan mu, membelai tubuh mu dan merasakan nikmatnya nafsu. ”
” Itulah rahasia alam pikiran manusia, sama seperti mimpi. Di dalam mimpi kita bisa merasakan sakit dan ketakutan, bahagia dan gembira, sama seperti yang kita rasakan di alam nyata. Karena sebenarnya mimipi dan kenyataan itu sama, sama-sama terjadi karena impuls listrik di sistem syaraf kita (*).” Arni mencoba menjelaskan kepada aku.
” Pernahkah kamu bertanya, kenapa setelah bangkit dari kematian kamu hanya memberikan waktu mu untuk menemani aku. Kenapa kamu tidak punya kehidupan lain, selain menjadi seorang yang mencintai ku. Semua itu karena aku yang menciptakan mu, aku membuatmu hanya untuk menemani aku, hanya untuk mencintai aku. ”
Aku terdiam, apa yang dikatakan Arni memang benar, aku tak punya kehidupan, selain sebagai seorang kekasihnya.
” Jika memang seperti itu, biarkan aku seperti ini. Menjadi bayangan dan ilusi yang terus menemani dan selalu mencintai. ”
” Tidak aku harus kembali ke kehidupan nyata. Aku harus melupakan mu dan karena aku yang menciptakanmu, aku juga yang akan memusnahkanmu. Dokter ahli jiwa itu telah mengajari aku bagaimana cara untuk menjauhkan dirimu dan sekarang aku sudah tahu bagaimana cara untuk memusnahkanmu. ” Dan disini bersama seseorang yang menyayangiku dan memperhatikanku.
Aku tak mampu berkata, tak sanggup untuk melawan. Aku hanya bagian dari kesedihan, hanya air mata yang tak terhapuskan atau hanya sebuah luka yang menganga. Semuanya kembali gelap, dingin dan sepi, tubuh ku mulai terasa ringan, kembali melayang tanpa tujuan. Saat itu ia mengajakku ke sebuah makam, dan batu nisan itu tertulis namaku...

Kematian kembali menghantuiku ataukah Aku benar-benar telah mati???
apa yang kamu butuhkan?...
apa aq salah mencintaimu?...
aq berharap dapat seperti dulu lagi, bersama denganmu dan hanya denganmu???...
sayang, aq rindu ketentraman? tiada pernahkah kamu mengerti perasaanku!
aq juga berharap, kamu adalah bidadari yang dapat menghidupkanku kembali

ASTAGHFIRULLOOHAL 'ADHIIM
WALAA HAULA WALAA QUUWATA ILLAA BILLAAHIL 'ALIIYIL 'ADHII

Kacang Lupa Kulitnya

Suatu kisah yang saya ambil dari inspirasi lagu sebuah band berjudul “Sadarkan Aku”, menginspirasi saya mencoba mengarang cerita yang mungkin terjadi dalam kehidupan kita, lagu itu menceritakan tentang keberhasilan tidaklah jauh dari orang di sekitar kita, salah satunya adalah TEMAN, di dalam lagu itu tertuang makna bahwa teman yang membantu di setiap perjalan kita untuk menjadi “Besar”, dari dukungan mereka dan semangat yang mereka berikan kepada kita, membantu kita menjadi apa yang diinginkan.

“KACANG LUPA KULIT”

Awal kisah di mulai dari kehidupan sekelompok anak terlantar yang memiliki latar belakang keluarga yang sama “Broken Home”, tetapi mereka masih memiliki cita-cita, mimpi, dan harapan yang selalu ingin mereka wujudkan, tetapi terkadang mereka putus asa karena kondisi keluarga yang tidak mendukung, untuk biaya sekolah saja terasa tidak tersedia lagi, untuk sesuap nasi juga harus bersusah payah terlebih dahulu, sehingga memaksa mereka untuk menjadi kuli pasar, menjadi pengamen jalanan, untuk mengisi perut kosongnya.
Suatu hari salah seorang anak di antara mereka mendapat beasiswa dan kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri, tetapi dia masih bimbang, jika kesempatan itu di ambilnya ia tidak tega dengan teman-temanya yang bahkan hanya bisa bersekolah sampai di jenjang SLTP, tapi jika ia mengabaikan kesempatan itu maka ia tidak dapat menggapai impian yang di impikanya sejak berada di bangku sekolah dasar.
”Hei, Rid..!Ngapain kamu bengong di situ.??Gak bisanya kamu seperti itu, ayolah ikut Main Bola dengan kami”ujar Rizal. (Farid tetap duduk diam termenung seakan mengamati pemulung yang sedang memungut sampah pada tumpukan sampah di kampungnya, sesungguhnya pandangnya kosong)
”Kau dengar kami atau tidak..!!”.teriak Ahan (sambil menendang dengan keras bola di kakinya ke arah Farid). ”Hahahahahaha..Maaf teman, cuman bercanda, ayo kita mulai..!!”jawab Farid (kemudian langsung berlari sambil menggiring bola)
Di tengah permainan sering sekali Farid tidak konsentrasi dalam permainanya, tidak seperti biasanya saat memainkan hobbinya tersebut.  “Aku tak ikut main lagi..”ujar Farid
Permainan dihentikan dan mereka menyusul ke arah Farid berjalan, setelah sampai dan melihat Farid merenung kembali mereka-pun mendatangi Farid.
Mereka membicarakan tingkah Farid yang tidak biasanya, setelah itu Farid bercerita sesungguhnya dan kemudian sahabatnya memberi semangat kepada  Farid, sehingga Farid mengambil kesempatan beasiswa itu.
Selanjutnya mereka memberi semangat kepada Farid kemudian terdengar adzan Maghrib berkumandang )
Malam harinya Farid-pun kembali merenugkan akan keputusan yang akan di ambilnya itu, ia tak ingin menyesali apa yang telah di putuskanya nanti. Ibu Shinta datang menhampiri Farid dan menawarkan secangkir teh hangat, (kemudian di minumnya secangkir teh hangat itu), (Lalu Farid menceritakan kejadian sebenarnya).  (Setelah itu mereka membicarakan hal ini, hingga akhirnya Farid mengambil beasiswa itu, kemudian memeluk ibunya dengan erat)
Lewat tengah malam saat Farid terbangun karena mendengar Ifan menangis tanpa henti dari dalam kamar ibunya, Farid pun menengok ke kamar ibunya tapi saat itu ibunya tak ada di kamarnya, sambil menggendong adiknya Farid lalu mencari ibunya, betapa terkejutnya dia saat di lihatnya Bu Shita sedang Sholat Malam sambil menangis mendo’akanya agar kepergianya ke luar negeri nanti dapat menjadi ilmu yang bermanfaat, tanpa disadari air mata Faridpun menetes seketika.
Ke esokan harinya, sahabat – sahabat Farid ke rumahnya pagi-pagi sekali untuk menjalani rutinitas yang di lakukanya pada hari Minggu pagi yaitu jogging berkeliling kampung. Sambil jogging mereka bercanda tawa dan mereka-pun merasakan bahwa sikap Farid telah kembali seperti biasanya, kembali menjadi Farid yang selalu ceria, humoris, pencair suasana, dan dapat membuat orang berada di dekatnya nyaman akan keberadaanya.
Ditengah percandaan Farid memberitahu keputusannya kepada temanya, dan temanya senang mendengar keputusan Farid.
Akhirnya hari itu-pun tiba, hari saat Farid akan pergi berangkat ke Eropa bersama Pak Iman yang mengusulkan Farid untuk mendapat beasiswa ke Eropa. Teman-temanya pun ikut mengantar ke bandara bersama Bu Shita dan kedua adik Farid.
Faridpun diberi sebuah gelang oleh teman – temanya sebagai tanda persahabatan mereka.
(sementara itu Ahan berbincang-bincang sendiri dengan Pak Iman perihal kapan pendidikan Farid berakhir)
Tak lama kemudian Ahan menyampaikan pesan terakhirnya kepada Farid. Lalu Farid memeluk Ahan, dan di susul oleh teman-temanya yang lain untuk memeluk Farid sebelum ia terbang ke Eropa.
Perhatian-perhatian, pesawat dengan tujuan penerbangan ke Amerika akan berangkat 15 menit lagi, terima kasih.
Kemudian Farid berpamitan dan mencium tangan ibunya disusul dengan memberikan beberapa pesan kepada teman – temanya.
Beberapa jam kemudian mereka-pun sampai di bandara nasional Amerika. Mereka-pun langsung menuju ke Universitas Chicago yang terkenal itu. Sesampainya disana Farid diajak untuk berkeliling Universitas oleh Mr.Greed. Setelah beberapa lama berkeliling dan Farid-pun telah mangenal lingkungan barunya, Mr.Greed mengantarkanya ke asrama putra dan menunjukan di mana kamarnya. Diapun berkenalan dengan Tommy yang berada satu kamar dengannya.
Kemudian Farid-pun mulai membiasakan diri dengan kehidupan mewah di Negeri Paman Sam itu, sampai-sampai ia lupa dengan tempat asalnya dan teman-teman yang selalu mendukungnya.  Namun sebaliknya, ia selalu di nanti-natikan kedatangannya oleh keluarga serta teman-temanya. Teman – temanyapun berusaha untuk mencari informasi tentang Farid kepada pak Iman, pak Imanpun memberikan no telefon Farid, setelah itu mereka menghubungi Farid. Merekapun berbincag - bincang guna melepaskan rasa rindu.
Jauh dari yang di kira, dengan durasi waktu belajar 3 tahun Farid telah pulang dengan menyandang gelar Master. Kepulangannya pun di sambut meriah oleh sahabat-sahabatnya. Setelah sampai di rumah kecilnya, ia langsung saja beristirahat meskipun dengan terpaksa karena telah terbiasa dengan kamar yang mewah, dan tanpa menghiraukan teman-temanya yang telah begitu merindukan dan menunggu kedatangnya. Teman – temanyapun mendengar kabar bahagia ini, keesokan harinya, sahabat-sahabat Faridpun sudah menuggu ia di depan rumahnya, dengan harapan Farid akan menceritakan kisahnya saat belajar di Amerika.
Di sisi lain, Farid menunggu telepon dari rekan sekamarnya saat di asrama Chicago, kerena Tommy akan mengajaknya bekerjasama membangun kembali perusahaan Pak Laksono di Medan.
Teleponpun berbunyi Farid dan Tommy berbincang guna membicarakan rencana kerjasamanya itu. Dan ternyata Tommy sudah akan mengirimkan uang untuk pembelian tiket keberangkatan Farid.
Setelah menutup telpon, Farid bergegas untuk membeli tiket penerbanganya, Ia pun merasa beruntung karena memiliki teman seperti Tommy.
Keesokan harinya Farid berangkat ke bandara sesudah Subuh, ia hanya berpamitan dengan ibunya saja tanpa mengabari sahabat-sahabat karibnya. Yang tertinggal di benak sahabat-sahabatnya hanyalah satu pertanyaan “Ada Apa Dengan Farid..??”.
Setibanya di Medan, ia pun di sambut oleh Tommy dan asisten papanya, Faridpun di jamu makan siang mewah di restoran samping kantor tempatnya bekerja nanti. Setelah itu Tommy mengajak Farid menghadap ke Ruang Dirut untuk menemui papanya.
Setelah bertemu dengan papa Tommy, Tommypun mengajak Farid mengelilingi kantor untuk memperkenalkan Farid kepada karyawan-karyawanya bahwa Farid adalah atasan baru mereka di bagian Tehnologi. Setelah usai berkeliling, Tommy mengantar Farid ke ruang kerjanya, tanpa di duga sebelumnya, betapa mewahnya ruang kerja yang di dapatnya, karena selama ini ruang kerja yang ada di fikiranya hanyalah berisi Meja Kerja, Kursi Putar, dan ruanganya ber AC, tapi yang ia dapatkan lebih dari itu. Akhirnya ia pun terlena oleh kemewahan itu.
Setelah beberapa bulan Farid bekerja, perusahaan Pak Laksono mengalami kemajuan yang sangat derastis, keuntungan yang di dapat perusahaan itu belipat ganda menjadi 2X lipat per bulan. Betapa bangganya Pak Laksono terhadap Farid, dan akhirnya Faridpun di naikan jabatanya menjadi direktur utama perusahaan itu, sementara Tommy tidak mengalami kenaikan jabatan, hal itu menjadikan Tommy iri dan mulai berniat buruk kepada Farid, akhirnya Tommy memutuskan untuk mengambil cuti 2 bulan untuk menghilangkan rasa kecewanya pada Pak Laksono karena telah memberikan perusahaan itu kepada Farid. (Tommy meminta izin kepada Farid, namun dengan berat hati Farid mengizinkan Tommy untuk mengambil cuti)
Tommy bergegas pulang untuk bersiap-siap berangkat bersama teman-temanya, sesampainya di rumah, Pak Laksono langsung memarahi Tommy habis-habisan.
Langsung saja Tommy tancap gas ke rumah teman-temanya untuk segera berangkat ke Singapura, tanpa bekal apa-apa dan hanya berbekal uang, mobil, dan kartu ATM saja iya nekad berangkat ke Singapura.
Satu jam lagi, mereka akan terbang ke Singapura, dan mereka pun bersiap-siap di bandara. Pak Laksono pun tidak menghalangi anaknya karena dia ingin mengetahui kemampuan anaknya itu. Setibanya di Singapura, Tommy dan kedua temanya langsung berkeliling-keliling untuk mencari kesenangan.
Mereka telah memesan kamar, kamar yang mereka pesan merupakan kamar kelas atas yang biasa di gunakan oleh para pejabat-pejabat, tapi bagi mereka itu semua biasa saja, karena mereka bertiga berdasarkan dari keluarga yang sangat mapan. Tommy bertingkah seperti ini karena ia merasa di khianati oleh orang yang ia anggap saudara, tiada rasa terima kasih dan balas budi yang ia terima.
Dua minggu lamanya Tommy telah berlibur dan ia sudah bisa menerima kenyataan bahwa perusahaan yang seharusnya ia miliki telah di berikan kepada Farid. Dan akhirnya Tommy dan teman-temanya terbang ke Indonesia, tapi sesampainya di rumah dan tanpa ada perhatian lebih kepadanya, malah Pak Laksono memarahinya lagi dan meminta Tommy untuk segera membuktikan bahwa ia mampu jika di beri kuasa memimpin perusahaan itu.
 (selagi membiarkan Tommy pergi dari rumah, Pak Laksono tersenyum bahagia dengan ucapan anaknya dan ia yakin Tommy bisa membuktikan ucapanya)
Tommy memang sangat mudah terbawa emosi, tapi ia bisa mencerna emosinya untuk memikirkan apa yang akan di lakukanya setelah ini. Lain halnya dengan Farid, ia begitu merasa perjuanganya tidak sia-sia dan iya telah mendapatkan semuanya “sendiri”.
Jauh dari kehidupanya sekarang, Farid merupakan anak yang ramah dan tidak sombong, tapi mengapa ia begitu cepat berubah, itulah isi pikiran sahabat-sahabatnya, karena tak mau menyusahkan Pak Iman untuk menghubungi Farid, mereka hanya menanyakan alam lengkap perusahaan tempat Farid bekerja, dan merekapun mengirimkan secarik surat pada Farid.(merekapun bejalan menuju kantor pos).
Surat telah di kirim melalui kantor pos, dan pihak kantor pos telah mengirimkanya ke perusahaan Pak Laksono yang di pimpin Farid, tetapi surat itu tak di baca oleh Farid karena Office Boy yang menerima surat tersebut tidak berani memberikan surat itu kepada Farid karena selain suratnya tampak kotor dan tak layak jika di berikan kepada seorang direktur.
Sebulan lamanya Pak Laksono tidak mengetahui kabar anaknya, tiba-tiba anaknya itu hadir mewakili perusahaan yang di pimpin oleh Sonny untuk berebut job dengan perusahaan ayahnya. Betapa kagetnya ia ketika melihat Tommy dengan sempurna merebut job tersebut dari perusahaanya.
Pak Laksono segera menelepon Tommy untuk pulang ke rumah dan memberi ucapan selamat padanya. Pak Laksono juga berfikiran untuk mempercayakan perusahaanya kepada Tommy, karena selama di pimpin Farid, banyak karyawan-karyawan yang mengeluh bahkan mengundurkan diri karena kepemimpinan Farid yang tidak mengenal toleransi.
Malam hari sesampinya di rumah, Tommy tidak melihat pesta apapun, biasanya kalau ayahnya bilang ingin memberikan ucapan apa atau apa, pasti akan ada pesta besar-besaran. Pak Laksono sengaja tidak membuat pesta karena ia ingin tau apakah Tommy bekerja karena ingin di puji atau ia bekerja dengan segenap kamampuan yang di milikinya.
Keesokan harinya, Pak Laksono datang ke kantor bersama Tommy untuk menggeser sedikit posisi Farid. Pak Laksono masuk ke ruangan Farid dan langsung menyuruhnya untuk mengumpulkan seluruh karyawan dan pegawainya karena Pak Laksono akan mengumumkan sesuatu. Apa yang terjadi ??? ternyata pak Laksono mengumumkan kepada para karyawan jika pimpinan akan digantikan oleh Tommy.
Farid langsung bergegas pergi dari kantor itu, keesokan harinya ia memutuskan untuk hengkang dari perusahaan itu dan kembali ke Surabaya. Saat ia akan kembali ke Surabaya, tiba-tiba OB kantor mencegatnya, untuk memberikan secarik surat kusam padanya.
Farid membawa surat itu, karena penasaraan, ia membukanya saat berada di pesawat. Betapa kagetnya ia saat membaca surat itu yang ternyata di kirim dengan susah payah oleh para sahabatnya di kampung yang ia lupakan, seketika itu juga ia meneteskan air mata dan sadar bahwa ia begitu jahat melupakan teman-teman yang selalu setia menemani, mendukung, dan menantinya.
Sesampainya di Surabaya, ia langsung pulang untuk menemui keluarga dan teman-temanya. Ia menangis saat mengetahui bahwa teman-temanya dapat dengan ikhlas memaafkan kesalahanya yang begitu banyak pada mereka. Farid juga berjanji akan mengajarkan apa yang ia dapat sejak meninggalkan desanya sampai ia kembali ke rumahnya yang sederhana.
Sejak saat itulah Farid kembali menjadi pribadinya sendiri, kehidupanya pun berjalan normal kembali, daerahnya sudah tidak lagi di anggap perkampungan kumuh oleh masyarakat Surabaya. Sementara Farid sendiri telah menyadari arti persahabatan dan kesetiaan terhadap sahabat.
Kesuksesan takan bisa di capai dengan sendirinya, tapi kita membutuhkan orang lain untuk menggapainya, jangan pernah kau lupakan orang yang membantu dan ikut campur dalam kesuksesanmu, sebelum kau menyesal dan terpuruk dalam kejamnya kehidupan ini.

Kamis, 01 Desember 2011

Layang Buat Anakku (Kisah Nyata)



Hari Jum’at penuh rahmat dan barokah. Saat itu, tanggal 27 Mei 2010 Kota Surabaya bercuaca cerah. Aku pun beranjak menuju sekolah, tempatku mengabdi sebagai GTT (Guru Tidak Tetap) beberapa waktu lamanya. Sampai akhirnya aku mengikuti tes sebagai calon abdi Negara di Kota tempatku bertugas membina anak bangsa. Begitu banyak kenangan terindah yang tidak mungkin kulupakan begitu saja. Begitu pula yang terjadi pada masyarakat sekolah (mulai dari guru, murid, staff administrasi bahkan wali murid pun merasakan kenangan indah itu). Coretan kecil ini akan mengungkap kerinduan hati akan kemesraan dan kebersamaan yang pernah terjalin bersama mereka.

Hari itu, aku mengurus surat-surat untuk melengkapi administrasi di instansi tempatku bertugas sekarang. Aku pun datang ke sekolah yang lama dan tentu saja bertemu mereka.

Awan yang semula cerah tiba-tiba kelam, air hujanpun menetes mewarnai perjumpaan kami. tak terasa mata kami pun sembab, haru dan rindu berkumpul menjadi satu sebagai pertanda akan rindunya pertemuan yang telah kami impikan. Bahkan ada wali murid dan anak-anak mengharapkan aku kembali mengajar di sekolah itu. "Pak mengajar kembali disini ya, kasihan anak-anak, karena penggantinya tidak memiliki pribadi seperti bapak", menurut mereka. Padahal mungkin saja aku tak sebaik kata wali murid tersebut.

“Maksud hati memeluk gunung apalah daya tangan tak sampai”. Aku menjawab : tugas yang ku emban disana cukup berat, sehingga aku pun tak berdaya untuk kembali mengajar disini, serta administrasi kepegawaian juga melarang untuk double job. Satu hal lagi Allah telah menentukan bahwa disanalah aku dapat berkarya lebih baik lagi untuk membina anak bangsa tempatku bertugas sekarang, disana juga merupakan masa depanku untuk hidup lebih baik lagi (bukan berarti kejar materi).

Prinsipku “KERJA ITU IBADAH”, tetapi setiap insan pasti butuh kecukupan materi untuk bekal ibadah. Ada juga salah satu muridku bilang; : Pak, aku kangen sekali dengan pak Afif (sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya), aku pun tak kuasa melihatnya (sambil ku elus rambutnya). "sekarang saya sudah disini, kenapa masih nangis, heheheee" ucapku menghibur mereka sambil teharu.

Bahkan sewaktu mau pulang dan berangkat sholat jum’at mereka berkumpul mencegahku untuk pulang, alasannya masih kangen. Aku pun tak dapat menolaknya dan akhirnya terpaksa sholat jum’at di masjid sekitar sekolah. Akhirnya ku pulang membawa kenangan berupa kerinduan mereka.

Disini ingin ku sampaikan sesuatu kepada mereka walaupun mereka tidak dapat mendengarnya khususnya buat Ibu-Ibu Guru, Wali Murid dan Anak-Anak yang pernah aku bina: “maafkan saya karna tugas yang ku emban membutuhkan keseriusan dan saya butuh interaksi ditempat yang baru sehingga harus fokus agar mendapatkan hasil maksimal”.

Walaupun begitu hati ini tetap tak dapat melupakan kenangan indah yang pernah terjalin apik, karna terlalu manis untuk dilupakan.

YA ALLAH YA ROBBUL IZZATI
Hamba rindu kedamaian yang pernah terjalin
Hamba rindu suasana yang pernah singgah dalam perjalanan hidupku
Hamba rindu kebersamaan ketika bersama bersendah gurau

Hati ini menangis darah ketika mengingatnya
Mata ini tak kuasa menahan linangan air mata
Kenangan itu terlalu indah dan manis untuk dilupakan
Emosi pun memuncak ketika mengingatnya

Sewaktu ku tulis catatan kecil ini, kuberharap mereka tak pernah melupakan aku, dan aku berdo’a smoga kami dapat terus berkomunikasi walaupun via sms. Dan saat ku tulis catatan ini tak terasa mataku sembab ketika mengingatnya.

Inilah sepetik do’aku buat mereka:
ALLAAHUMM MAGHHFIR LILMU’MINIINA WALMU’MINAAT WALMUSLIMIINA WALMUSLIMAAT AL-AHYAA-I MIN HUM WAL AMWAAT
ROBBANAA DHOLAMNAA ANGFUSANAA WA-ILLAM TAGHFIRLANAA WATARHAMNA LANAKUUNANNA MINAL KHOSHIRIIN
LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINADH DHOOLIMIIN
YAA MAULAANA YAAMUJIIB YAA HADZIIID LAA YAHIIB
TAWASSALANA ILAIKA BI HABIIBI TAQDLI HAAJATI QORIIB
WASHOLLALLAAHU ‘ALA SAIYIDINA WAMAULAANA MUHAMMADIN
WA ‘ALAA AALIHII WASHOHBIHII WASALLIM
IRHAMNA JAAMII’AH WARZUQNA WAA SI-‘AH
YA ALLAAH KHOOLIQUL ANAAM
AMIN YA ALLAAH

Untukmu Ummy

Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatulloohi Wa Barokaatuh

apa kabar Ummy sayank?
Aby tuliskan sesuatu buat Ummy
Aby berharap Ummy menerima goresan pena yang menyiratkan hati Aby

Sayank…
Aku bukanlah Muhammad SAW, seorang manusia yang Mulia
Aku juga tidak setakwa Ibrahim AS
Ataupun Ayub AS, yang terkenal dengan ketabahannya
Bukan pula Musa AS yang gagah
Apa lagi setampan Yusuf AS

Ummy Sayank
Aku hanyalah manusia lemah
Yang memiliki banyak kekurangan
Aku juga manusia faqir dan hina
Tanpa harta dan permata

Tapi aku punya cita-cita bersamamu
Menikmati waktu di akhir sisa hidupku
Tuk membangun singgasana cinta sejati
Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rohmah Wa Robbun Ghofuur

Ummy Sayank…
Aku tahu… kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam menjaga,
Bukan pula Siti Hajar, yang begitu setia dalam sengsara.
Atau pun Siti Zuleha dengan kecantikannya yang menawan

Ummy Sayank…
Ingatkanlah aku bila terlupa
Tegur daku bila salah
Ajaklah daku tuk Mardlotillah

Ummy Sayank…
Rawat dan didik anak-anak kita
Sebagi insan yang kaffah dan sholeh solehah
Pahamkanlah mereka dengan syahadat
Agar mereka dapat mensykuuri nikmatNya
Ajari mereka hijaiyah agar tidak buta kalamulloh

Ummy Sayank…
Tiada kata yang pantas aku ucapkan
Tiada kalimah indah yang dapat ku uraikan
“Aku Mencintaimu karena Allah”

Ya Rohmaan…
Puji syukur atas belas kasihMu
Yang telah menyatukan 2 hati dalam cinta

Ya Haadi…
Tuntunlah kami meraih cinta sejati
Tuntunlah kami tuk selalu dijalan lurusMu
Sehingga kami semakin mencintaiMU

Ya Muhaimin… Wahai yang Maha Menjaga
Jagalah cinta  suci yang lahir dari kerinduan hati akan rasa
Mampu melewati aral melintang sebagai tantangan kehidupan
Tak tergoyahkan walau badai menghantam

Ya Shomad
Hanya kepadaMu tempat kami meminta
Karena Engkau sebenar-benarnya tempat kami berkeluh dari segala keluh
Agar resah bayangan kelam tertepis atas RidloMu

Ya Mujiib
Kabulkanlah permohonan kami
Sehingga cinta ini abadi
Hingga pada saatnya nanti
Kau hidupkan kami kembali
Setelah datangnya mati

AAMIIN YAA MUJIIBUD DU’AA

mohon maaf sobat, bila coretan ini tidak antum suka karna teresan lebay.
Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatulloohi Wa barokaatuh

Bila Saatnya Tiba


Assalaamu ‘Alaikum Wa Rohmatulloohi Wa Barokaatuh

KULLU NAFSIN DZAA-IQOTUL MAUT
Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian

Dari kalam diatas dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa setiap makhluk akan mengalami kematian.

Sobat bila saat itu tiba, apakah antum telah siap?
Apakah pernah antum ingat hal ini?
Bagaimana dengan kematian antum kelak, dalam keadaan baik atau buruk?
Wallohu A’lam, karena segala sesuatu yang telah kita tanam pasti pula akan kita unduh.

BILA SAATNYA TIBA

Lelah kaki ini melangkah
Susuri kehidupan yang beranjak tua
Rapuh jiwa ini mengejar roda
Yang semakin tergelincir arus kehidupan

Tubuh yang dahulu kekar
Kaku bak seonnggok batang pisang
Kulit yang dahulu halus indah
Kini keriput dan kusut kesat

Rambut hitam kelam menyinarkan mahkota
Beraroma bau dan terlihat kusam
Wajah tampan yang dulu menjadi idaman
Tak laku lagi dipasaran

Ya Alloh, roda kehidupan telah kulalui
Suka duka menjadi bumbu sehari-hari
Semua yang pernah kubanggakan
Kini hanya rosokan

Ya Robb jika saat itu tiba, hamba hanyalah seonggok bangkai
Mata yang dahulu melihat cacing-cacing tanah, belatung dan sejenis yang semasa hidup menjijikkan
Hewan kecil itu merayap memasuki lobang-lobang raga yang tak berkuasa lagi
Menikmati daging segar dan memporak porandakannya tanpa mengenal iba

Ya Robb…
Langkah hamba berkelok-kelok
Kami bermohon kepadamu
Ampunilah atas segala dosa Ya Ghofuur

Ya Alloh… sesungguhnya perbuatan baik yang telah hamba lakukan
Merupakan bagian ibadah dan semata tuk mengharap RidloMu
Dan perbuatan buruk itu karena khilaf dan salah
Hamba tiada dapat mengendalikan nafsu

Alloohumma Inna Nas-aluka Husnul Khootimah Wa Na’uudzubika min suu-ul Khootimah.
Ya Allooh, sesungguhnya hamba berharap mati dalam keadaan baik, dan lindungilah kami dari kematian yang buruk

AAMIIN

Sobat, apalagi yang kita sombongkan?
Dan apalagi yg kan kita dustai?
Kematian tujuan akhir dari kehidupan, maka beramallah, karena hanya ‘amal baik yang dapat membantu kita ketika 2 malikat (Munkar dan Nakir) datang dengan berbagai pertanyaan.

Akhir kalam

Wassalaamu ‘Alaikum Wa Rohmatulloohi Wa Barokaatuh

Apa Aku Salah Mencintaimu



Ketika senja mendekati malam
ku lihat rembulan menaruh senyum padaku
Belenggu yang selama ini menyiksa
Terbuka karena perhatian dan kasih sayangmu

Sungguh bak setengah bidadari Untuk kisahku
Kau aroma penghias hidupku
Aku ingin jumpa dirimu
Walau hanya setengah bidadari seperempat hayalku

aku tak tahu apa yang harus kukecam
mata ini atau hati ini yang tergoda
aku hanya manusia biasa yang punya rasa
aku juga bukan dewa yang acuh paras jelita

sayang, knapa kita bersatu
terpisah oleh jarak dan waktu
dan knapa kita terjatuh karena cinta
ataukah takdir YANG MAHA KUASA

Bolehkah aku memilihmu???
kau juga menerimaku tuk mengisi relung hatimu
kita tiada pernah tahu apa yang terjadi esok
ataukah kita memang berjodoh!!!!!

ILAAHI ROBBI
Pabila ini ketentuanmu maka pertemukanlah kami
Persatukanlah kami atas rahmah dan inayah
Tolonglah kami atas mata dan hati ini
Ridloi dan sempurnakan kami, dalam takwa

HASBUNALLOOHU WANI’MAL WAKIIL
NI’MAL MAULAA WANI’MAN NASHIIR
WALAA HAULA WALAA QUUWATA
ILLAA BILLAAHIL ‘ALIIYIL ‘ADHIIM

ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAIYIDINAA MUHAMMADINN
SHOLAATAN TUBALLIGHUNA BIHAL MATHOOLIBI WAL MAQOOSID

WA NAMNA-’U ‘ANNA SYARRO KULLA ‘ADUUWI WAHAASID
ROBBANAA HABLANAA MIN AZWAAJINAA
WADZURRIIYATINA QURROTA A’-YUUNA
WAJ-ALNA LILMUTTAQIINA IMAAMA

YA ALLOOH YAA WAHHAAB YAA LATHIIF
YAA MAULAANA YAA MUJIIB YAA HADZIID
AMIN-AMIN YAA ROBBAL ‘AALAMIIN